Minggu, 04 Desember 2016

KONSEP DASAR PENDIDIKAN KARAKTER



KONSEP DASAR PENDIDIKAN KARAKTER

2.1  Apa Itu Karakter?
karakter secara harfiyah berasal dari bahasa Latin “character”, yang berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak.
Secara istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Jadi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat.
Karakter = akhlak dan budi pekerti. Karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa/budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik.
a.      Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah penanaman nilai esensial dengan  pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadiannya. Pendidikan karakter dalam grand desain pendidikan karakter, adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.


Pendidikan karakter dalam Islam dapat dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah
·         Manifestasi hamba dan khalifah-Nya
Sesuai dengan al-Dhariyat (51): 56; al-Bayyinah (98): 5;dan al-Baqarah (2): 30.Maka hanya orang yang bertakwalah yang mampu menunjukkan sebagai pribadi hamba dan khalifah Allah.
Jadi, tujuan pendidikan karakter Islami: menjadikan anak didik sebagai hamba dan khalifah Allah yang berkualitas taqwa. Pekerjaan atau aktifitas taqwa meliputi semua bidang mulai dari keyakinan hidup, ibadah, moralitas, aktifitas interaksi sosial, cara berfikir, hingga gaya hidup.
·         Indikator orang berkualitas taqwa menurut al-Qur’an:
1.      Memiliki keyakinan yang membara dan kuat bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS. 2: 3)
2.      Memiliki perspektif jangka panjang. Kebiasaan memandang jauh ke depan sehingga menjadi pribadi yang proaktif (QS. 59: 18)
3.      Memiliki obsesi dan cita-cita yang sangat tinggi. Berambisi menjadi orang yang berilmu dan berharta untuk didayagunakan di jalan kebaikan untuk mencapi ridho Allah (QS. 2: 218)
4.      Mempunyai speed dalam berprestasi; selalu mengejar mutu pada semua aspek kepribadian; keunggulan dan kesempurnaan selalu menjadi standar dalam meningkatkan kualitas diri, sehingga peluang besar menuju kesuksesan akan dapat diraih (QS. 3: 153; QS. 5: 48)
5.      Selalu berobsesi menjadi yang terdepan. Siap memasuki medan kompetisi dalam kebaikan secara sehat dan konstruktif. Dunia dijadikan sarana mengabdi dan mendekat kepada Allah dan berbuat amal kebaikan kepada sesama. Orang yang bertaqwa tidak layak bekerja, berusaha, berprestasi seadanya, tanpa greget, tanpa target, dan tanpa kualitas unggul (QS. 5: 48; QS. 23: 61)

6.      Waktu-waktunya efektif dan produktif; membiasakan bekerja dengan tingkat efesiensi, efektifitas, dan produktifitas tinggi. Meninggalkan segalaperkataan dan tindakan yang tidak bermanfaat (QS. 23: 1 dan 3)
7.      Memiliki semangat kolektif dan kolaboratif. Kebersamaan, sinergi, dan harmoni menjadi watak kehidupan sebagaimana alam ini diciptakan. Mewujudkan keunggulan dalam kebaikan akan mudah diraih dengan kemampuan bekerjasama dan tolong menolong dengan sesama (QS. 5: 3)
2.2 Dasar Pembentukan Karakter
Sifat dasar manusia yang diberikan Allah adalah sifat fujur (cenderung kepada keburukan/kefasikan) dan sifat taqwa (cenderung kepada kebaikan), sebagaimana QS. Al-Shams, 91: 7-8. kedua sifat inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter (nilai baik atau buruk). Nilai baik disimbolkan dengan nilai malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai setan. Karakter manusia adalah hasil tarik menarik antara kedua nilai tersebut dalam bentuk energi positif dan negatif.
Energi positif berupa nilai-nilai etis religius yang bersumber dari keyakinan terhadap Tuhan, sebaliknya energi negatif berupa nilai-nilai a moral yang bersumber dari taghut (setan). Nilai etis berfungsi sebagai sarana pemurnian, penyucian dan pembangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (hati nurani).
Energi Positif, berupa:
1.      1.Kekuatan spiritual; iman, islam, ihsan, dan taqwa untuk mencapai ahsani taqwim (makhluq etis dan kemanusiaannya yang hakiki)
2.      2.Kekuatan kemanusiaan positif; aqlu as-salim, qalbun salim, qalbun munib (hati yang kembali, bersih, suci dari dosa), dan nafsu mutmainnah (jiwa yang tenang). Kesemuanya merupakan modal insani/SDM yang memiliki kekuatan luar biasa.
3.      3.Sikap dan perilaku etis (merupakan implementasi dari kekuatan spiritual dan kepribadian manusia, berupa; istiqamah (integritas), ihlas, jihad, dan amal salih.
Energi positif ini dalam perspektif individu akan melahirkan orang yang berkarakter, yi orang yang bertaqwa, berintegritas (nafsu mutmainnah), dan beramal shalih. Aktualisasi orang berkualitas ini dalam hidup dan bekerja akan melahirkan akhlaq yang luhur karena memiliki personality (integritas, komitmen dan dedikasi), capacity (kecakapan), dan competency yang bagus pula (profesional)
Energi Negatif; disimbolkan dengan kekuatan materialistik dan nilai-nilai thaghut (nilai-nilai destruktif) yang fungsinya sebagai pembusukan dan penggelapan nilai-nilai kemanusiaan. Berupa:
1.      1.Kekuatan taghut; kufr, munafiq, fasik, dan shirik. Kekuatan yang menjauhkan manusia dari ahsani taqwim menjadi makhluk yang serba material (asfala safilin)
2.      2.Kekuatan kemanusiaan negatif; pikiran jahiliyyah (pikiran sehat), qalbun marid (hati sakit, tidak merasa), qalbun mayyit (mati, tidak bernurani), dan nafsu al-lawwamah, yang menjadikan manusia menghamba pada ilah-ilah selain Allah berupa harta, seks, dan kekuasaan (taghut).
3.      3.Sikap dan perilaku tidak etis (implementasi kedua kekuatan yang dapat melahirkan konsep-konsep normatif tentang nilai-nilai budaya busuk. Meliputi: takabbur, hubb ad-dunya (materialistik), zalim, dan a’mal as-sayyi`at (destruktif)
Akan melahirkan pribadi berkarakter buruk, yang puncak keburukannya meliputi shirik, nafs lawwamah, dan a’mal sayyiat. Aktualisasinya melahirkan perilaku tercela, yi orang yang berkepribadian tidak bagus (hipokrit, penghianat, dan pengecut) dan tidak mampu mendayagunakan kompetensi yang dimiliki.
2.3 Urgensi Pendidikan Karakter Bangsa
1.      1.Memudarnya nasionalisme dan jati diri bangsa
2.      2.Merosotnya harkat dan martabat bangsa
3.      3.Mentalitas bangsa yang buruk
4.      4.Krisis multidimensional
5.      5.Degradasi moral perusak karakter bangsa






a.      Memudarnya nasionalisme dan jati diri bangsa
Nasionalisme:  cinta tanah air, bangsa, dan negara; rela berjuang dan berkorban untuk kejayaannya; ada heroisme, altruisme dan patriotisme; mengesampingkan individualisme, hedonisme, dan sparatisme.
Indikator:
1.      1.Berkembangnya individualisme, hedonisme, terorisme dan sparatisme;
2.      2.untuk berebut menjadi pejabat/PNS/dll harus menyuap (bukan abdi negara, tapi penghianat, bukan pejuang tapi pecundang);
3.      3.munculnya sparatisme, terorisme, dan berkembangnya ideologi trans-nasional yang mengingkari paham kebangsaan, cinta tanah air dan negara;
4.      4.enggan memakai produksi dalam negeri.

b.      Merosotnya harkat dan martabat bangsa
Indonesia sejatinya bangsa dan negara besar serta berpredikat positif, namun semua itu sirna karena predikat baru yang negatif seperti terkorup, bangsa yang soft nation, malas, sarang teroris, hilang keramah-tamahannya, banyak kerusuhan, banyak bencana, dls.
Fenomena lain: “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa” atau menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa”. Faktanya, Indonesia negara pengekspor kuli/babu/tenaga kasar/unskill terbesar (mendatangkan devisa, tapi madharatnya lebih besar)
c.       Mentalitas bangsa yang buruk
Indonesia memiliki modal/kekuatan yang memadai untuk menjadi bangsa besar dan negara yang kuat; luas wilayah,jumlah penduduk, kekayaan alam, kekayaan budaya, kesatuan bahasa, ketaatan pada ajaran agama, dan sistem pemerintahan republik yang demokratis.
Namun semua itu tak akan ada arti jika mentalitas bangsanya belum terbangun dan belum berubah ke arah yang lebih baik.Mentalitas penghambat tersebut di antaranya: malas,tidak disiplin, suka melanggar aturan, aji mumpung, suka menerabas, dan nepotisme.
Media yang ampuh untuk merubah mentalitas bangsa adalah pendidikan dan keyakinan agama. Pendidikan? Pendidikan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, bukan sekedar formalitas atau kepura-puraan. Pendidikan agama yang mampu menanamkan keimanan yang benar, ibadah yang benar dan akhlakul karimah, niscaya menjadikan anak didik sebagai manusia terbaik, yaitu yang bermanfaat dengan amal shalihnya.
d.      Krisis multidimensional
Permasalahan Indonesia: konflik sosial, sering mengedepankan kekerasan dalam memecahkan masalah, praktik korupsi yang semakin canggih dan massif, perkelahian antar pelajar-mahasiswa-warga-anggota dewan, pelanggaran etika dan susila yang semakin vulgar, munculnya aliran yang dianggap sesat dan cara peyelesaiannya yang cebderung menggunakan kekerasan, tindak kejahatan yang mengancam ketentraman, praktek demokrasi liberal yang ekstrem dalam berbagai aspek kehidupan yang bertabrakan dengan nilai-nilai kepatutan sebagai bangsa Timur dan bangsa yang religius.
Sebagai bangsa muslim terbesar, masalahnya banyak muslim Indonesia yang belum at home sebagai Bangsa Indonesia. Mereka tidak menerima negara pancasila, dan tidak memiliki kemampuan dan keterampilan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Dampaknya masih kuat ekslusifitas, maraknya gerakan umat yang kontra produktif, seperti terorisme, gerakan bawah tanah yang bertujuan mengganti bentuk negara, berbagai bentuk pembangkangan dan perlawanan terhadap negara dan pemerintahan yang sah. Akibatnya berangkai, sangat luas, dan kontra produktif bagi bangsa-negara dan umat Islam sendiri.
Permasalahahn di bidang pendidikan…diperparah dengan tayangan televisi yang sangat vulgar, life, dan tidak mengenal waktu tayang. Tindakan memfitnah, memperolok, menghin, mengadu domba, pembunuhan karakter juga difasilitasi oleh media.                                                   
e.       Degradasi moral perusak karakter bangsa
Eksistensi, kemuliaan dan kejayaan suatu bangsa tergantung akhlaknya. Demikian juga keterpurukan, kehinaan, dan kehancurannya.
Menurut psikolog dan ahli pendidikan AS, Thomas Lichona tanda-tanda degradasi moral:
ü  Meningkatnya kekerasan pada remaja
ü  Penggunaan kata-kata memburuk
ü  Pengaruh peer group (rekan kelompok) yang kuat dalam tindak kekerasan
ü  Meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas
ü  Kaburnya batasan moral baik-buruk
ü  Menurunnya etos kerja
ü  Rendahnya rasahormat kepada orang tua dan guru
ü  Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
ü  Membudayanya ketidakjujuran
ü  Adanya saling curiga dan kebencian di antara sesama.
2.4 Urgensi Pendidikan Karakter Islami
1.      Umat muslim merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Baik-buruknya Indonesia pasti berdampak pada muslim.
2.      Kesenjangan antara muslim cita dan muslim fakta
3.      Mengawinkan antara keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Mengawinkan ketiganya, seorang muslim akan memiliki tiga kesadaran: kesadaran ideal (keislaman), kesadaran tempat (keindonesiaan), dan kesadaran waktu (kemodernan), diharapkan muslim akan memiliki kearifan, kemuliaan, dan kejayaan.
4.      Etika dan moral Islam adalah moralitas agama yang mengarahkan manusia berbuat baik antar sesamanya agar tercipta masyarakat yang baik dan teratur. Berislam yang tidak membuahkan akhlak adalah sia-sia. Menurut Raghib al-Asfahani, etika Islam berbentuk ethical individual social egoism dalam motivasi moral. Maksudnya, etika sosial Islam tidak hendak memasung otoritas individu untuk sosial (paham komutarianisme) atau mengorbankan sosial untuk individu (paham universalisme). Etika Islam harus berlandaskan cita-cita keadilan dan kebebasan individu untuk melakukan kebaikan sosial.






Kesenjangan antara muslim cita dan fakta
Dalam perspektif pembangunan, ada 3 kelompok muslim:
1.      1.Muslim berideologi Islam politik; menjadikan Islam iseologi politik, bertujuan mendirikan negara Islam/khilafah islamiyyah, biasanya bersifat radikal, tidak merasa menjadi Indonesia, sedikit kontribusinya bagi pembangunan, sebaliknya merongrong kedaulatan RI
2.      2.Muslim mistik; disibukkan dengan urusan ritual keagamaan bahkan yang bersifat mistik, tidak mempersoalkan keindonesiaan tetapi juga tidak memberikan kontribusi yang berarti dan tidak juga membahayakan negara
3.      3.Muslim moderat; muslim ideal karena berprinsip keseimbangan antara urusan dunia-akhirat, selalu berusaha menjadi ummatan wasathan, di mana pun berada berusaha memberi manfaat. Ciri muslim moderat: at home di Indonesia, mencintai, berjuang dan rela berkorban untuk bangsa dan negara, dan memberi kontribusi bagi pembangunan.
4.      Ketiganya masih ada, bahkan muslimpolitik semakin menguat pasca reformasi. Dalam konteks pembangunan karakter bangsa, diarahkan untuk menjadi muslim moderat/ideal.







BAB  III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Karakter berasal dari bahasa yunani yang berarti “to mark” untuk menandai dan memfokuskan  bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah, moral disebut dengan berkarakter mulia.
Menurut sudrajat (2010), pendidikan karakter adalah suatu system penanaman nilai nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai nilai tersebut, baik terhadap tuhan yang maha esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi insane kamil.
Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Nilai nilai karakter yang dikembangkan dalam dunia pendidikan didasarakan pada empat sumber, yaitu : agama, pancasila, budaya bangsa, dan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. Implikasi pendidikan karakter mempunyai berbagai penyaluran yaitu dilingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan dilingkungan luar. Orientasi orientasi pembelajaran ini lebih ditekankan pada keteladanan dalam nilai kehidupan nyata, baik disekolah maupun diwilayah public.

HAKIKAT MANUSIA DENGAN PENDIDIKAN



HAKIKAT MANUSIA DENGAN PENDIDIKAN
Hubungan Hakikat Manusia dengan Pendidikan

A.      ASAS – ASAS KEHARUSAN ATAU PERLUNYA PENDIDIKAN BAGI MANUSIA

1.      Manusia sebagai Makhluk yang Belum selesai.

Manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, beradanya manusia di dunia bukan juga karena hasil evolusi tanpa Pencipta sebagaimana diyakini penganut  Evolusionisme, melainkan sebagai ciptaan Tuhan. Manusia bereksistensi di dunia. Artinya, manusia secara aktif “mengadakan” dirinya, tetapi bukan dalam arti menciptakan dirinya sebagaimana Tuhan menciptakan manusia, melainkan manusia harus bertanggung jawab atas keberadaan dirinya, ia harus bertanggung jawab menjadi apa atau menjadi apa nantinya. Berinteraksi berarti merencanakan, berbuat, dan menjadi sehingga dengan demikian setiap manusia dapat menjadi lebih atau kurang dari keadaannya. Dalam kalimat lain dapat dinyatakan bahwa manusia bersifat terbuka, manusia adalah makhluk yang belum selesai mengadakan” dirinya.

2.      Tugas dan Tujuan Manusia adalah Menjadi Manusia.

Sejak kelahirannya manusia memang adalah manusia, tetapi tidak secara otomatis menjadi manusia dalam arti dapat memenuhi dalam berbagai aspek hakikat manusia. Sebagai individu atau pribadi, manusia bersifat otonom, ia bebas menentukan pilihannya, tetapi bahwa bebas itu selalu berarti terikat pada nilai-nilai tertentu yang menjadi pilihannya dan dengan kebesan itulah seseorang pribadi wajib bertanggung jawab serta akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab itu, tiada makna lain bahwa berada sebagai manusia adalah mengemban tugas dan mempunyai tujuan untuk menjadi manusia, atau bertugas mewujudkan berbagai aspek hakikat manusia. Karl Jaspers menyatakan dalam kalimat: “ to be a man is to become a man”, ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad Hasan,1973). Implikasinya jika seseorang tidak selalu berupaya  untuk menjadi manusia maka ia tidaklah berada sebagai manusia.

3.      Perkembangan Manusia Bersifat Terbuka.

Manusia dilahirkan ke dunia dengan mengemban suatu keharusan untuk menjadi manusia, ia diciptakan dengan susunan yang baik dan berbagai potensial untuk menjadi manusia. Namun demikian, dalam kenyataan hidupanya, perkembangan manusia bersifat terbuka  atau mengandung berbagai kemungkinan. Manusia mungkin berkembang menjadi manusia yang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya atau sebaliknya mungkin pula ia berkembang ke arah yang kurang sesuai bahkan tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya
.
Anne Rollet mengemukakan bahwa bahwa sampai tahun 1976 para etnolog telah mencatat kira-kira 60 anak-anak buas di seluruh dunia.Tidak diketahui bagaimana asalnya anak-anak tersebut hidup dan dipelihara oleh binatang.Ada yang hidup dengan serigala, kijang, kera.Anak-anak tersebut berperilaku layaknya hewan tidak berpakaian, agresif untuk menyerang dan menggigit, tidak dapat tertawa, ada yang tidak dapat berjalan tegak dan tidak berbahasa layaknya manusia.
Jadi kemampuan berjalan dengan dua kaki, kemampuan berbicara,kemampuan berperilaku lainnya yang lazim dilakukan manusia yang berkebudayaan, tidak di bawa manusia sejak kelahirannya.
Demikian halnya dengan kesadaran akan tujuan hidupnya, kemampuan hidup sesuai individualitas, sosialitasnya, tidak di bawa manusia sejak kelahirannya, melainkan harus diperoleh manusia melalui belajar, melalui bantuan berupa pengajaran, bimbingan, latihan, dan kegiatan lainnya yang dapat dirangkum dalam istilah pendidikan.“ Man can become man through education only”, demikian pernyataan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya.

B.ASAS – ASAS KEMUNGKINAN PENDIDIKAN

Atas dasar studi fenomenologis yang dilakukannya, M.J. Langeveld (1980) menyatakan bahwa "manusia itu sebagai animal educandum, dan ia memang adalah animal educabile. Jika kita mengacu kepada uraian terdahulu tentang sosok manusia dalam berbagai dimensinya,ada& asas antropologi yang mendasari kesimpulan bahwa manusia mungkin dididik yaitu :

1.      Asas Potensialitas
Telah dikemukakan berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia yang memungkinkan mampu menjadi manusia, tetapi itu memerlukan suatu sebab, yaitu pendidikan.Contohnya, dalam aspek kesusilaan, manusia diharap mampu berperilaku sesuai dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang diakui.Ini adalah salah satu tujuan pendidikan atau sosok manusia ideal berkenaan dengan dimensi moralitas.Apakah manusia dapat atau mungkin dididik untuk mencapai tujuan tersebut?Jawabannya adalah dapat atau mungkin, sebab manusia memiliki potensi untuk berbuat baik.

2.      Asas Dinamika
Manusia selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya.Ia selalu ingin mengejar segala hal yang lebih dari apa yang telah mereka dapatkan. Ia berusaha mengaktualisasikan diri menjadi manusia yang ideal, baik dalam rangka interaksi atau komunikasinya. Jadi tujuan dari sudut pendidik, pendidikan dilakukan dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia ideal. Di pihak lain manusia itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. Karena itu, dimensi dinamika mengiplikasikan bahwa manusia akan mampu untuk dididik.

3.      Asas Individualitas
Individu antara lain memiliki kesendirian, ia berbeda dengan yang lainnya yang memiliki keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. Pendidikan dilaksanakan untuk membantu manusia dalam mengaktualisasikan atau mewujudkan dirinya.

4.      Asas Sosialitas
Manusia itu makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Dengan kehidupan bersama dengan sesamanya akan terjadi hubungan timbal baalik. Kenyataan ini memberikan kemingkinan manusia untuk dapat dididik.Sebab, pendidikan itu dapat disampaikan melalui interaksi antar sesama manusia dan dari interaksi itulah manusia dapat belajar secara langsung.

5.      Asas Moralitas
Manusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk berperilaku baik atau buruk. Pendidikan hakikatnya bersifat normatif, artinya dilaksanakan dalam nilai dan sistem tertentu serta diarahkan untuk menjadi manusia yang ideal, yaitu manusia yang sesuai dengan nilai atau norma yang bersumber dari agama maupun budaya yang diakui.

Pendidikan pada dasarnya adalah proses komunikasi yang didalamnya mengandung transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan-ketrampilan, di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung sepanjang hayat, dari generasi ke generasi (Dwi Siswoyo, 2008: 25). Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa hampir dari seluruh kegiatan manusia mulai dari lahir, hingga akhir hayat, dengan menggunakan komunikasi antar manusia untuk menciptakan dan saling menukar pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan, sejatinya adalah juga sebuah pendidikan. Pendidikan dapat pula diartikan dari berbagai sudut pandang yaitu:

1.         Pendidikan berwujud sebagai suatu sistem, yaitu pendidikan dipandang sebagai keseluruhan gagasan terpadu    yang mengatur usaha-usaha sadar untuk membina seseorang mencapai harkat kemanusiaannya secara utuh.
2.         Pendidikan berwujud sebagai suatu proses, yaitu pendidikan dipandang sebagai pelaksana usaha-usaha untuk mencapai tujuan tertentu dalam rangka mencapai harkat kemanusiaannya secara utuh.
3.         Pendidikan berwujud sebagai hasil, yaitu pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang telah dicapai atau dimiliki seseorang setelah proses pendidikan berlangsung.




Tujuan pendidikan secara luas antara lain adalah untuk meningkatkan kecerdasan, membentuk manusia yang berkualitas, terampil, mandiri, inovatif, dan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan.Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan sebagai makhluk individu, sosial dan beragama.Di sinilah peran lembaga pendidikan baik formal maupun non formal untuk membantu masyarakat dalam mewujudukan tujuan pendidikan yang telah disampaikan di atas, melalui pendidikan sepanjang hayat, manusia diharapkan mampu menjadi manusia yang terdidik. Agar terwujudnya tujuan pendidikan diatas, diperlukan patokan dan kerangka agar dalam pelaksanaannya, proses pendidikan berjalan lurus sesuai dengan tujuan dan tidak melenceng dari apa yang telah ditetapkan. Untuk itulah diperlukan landasan dan asas-asas pendidikan nasional yang dapat dijadikan patokan bagi semua lembaga pendidikan formal maupun non formal dalam memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para siswanya.Landasan dan Asas pendidikan sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Landasan pendidikan akan memberi pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia Indonesia. Sedangkan asas – asas pokok pendidikan akan memberi corak khusus dalam penyelenggaraan pendidikan dan pada gilirannya memberi corak pada hasil-hasil pendidikan itu yakni manusia dan masyarakat Indonesia yang terdidik dan beradab
 
apa yang telah ditetapkan. Untuk itulah diperlukan landasan dan asas-asas pendidikan nasional yang dapat dijadikan patokan bagi semua lembaga pendidikan formal maupun non formal dalam memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para siswanya.Landasan dan Asas pendidikan sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Landasan pendidikan akan memberi pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia Indonesia. Sedangkan asas – asas pokok pendidikan akan memberi corak khusus dalam penyelenggaraan pendidikan dan pada gilirannya memberi corak pada hasil-hasil pendidikan itu yakni manusia dan masyarakat Indonesia yang terdidik dan beradab.

A.     PENERAPAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN

 ada dua asas-asas utama yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan, yakni:
(1) Asas Belajar Sepanjang Hayat.
(2) Asas Tut Wuri Handayani.

 Untuk memberi gambaran bagaimana penerapan asas-asas tersebut di atas berturut-turut akan dibicarakan:
(1) keadaan yang ditemui sekarang,
(2) permasalahan yang ada.
(3) pengembangan penerapan asas-asas pendidikan.

1.      Keadaan yang Ditemui Sekarang

 Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang:
(1)       usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi,
(2)       usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugsnya secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun diluar negeri ,
(3)       usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan,
(4)       usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani,
 (5)      pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan masyarakat yang bertujuan untuk:
(a) meningkatkan sumber penghasilan keluarga secara layak dan hidup bermasyarakat secara berbudaya melalui berbagai cara belajar,
 (b) menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya,
(7)        usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi muda: kepemimpinan dan ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, sikap patriotisme dan idealisme, kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur,
(8)        usaha pengadaan berbagai program pembinaan keolahragaan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anggota masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatanolahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta prestasi di bidang olahraga,
(9)        usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia; peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta ketahanan mental.
 Sesuai dengan uraian di atas, maka secara singkat pemerintah secara lintas sektoral telah mengupayakan usaha-usaha untuk menjawab tantangan asas pendidikan sepanjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana, kesempatan serta sumber daya manusia yang menunjang.
 Dalam kaitan penerapan asas Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang, yakni
(1)        peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan yang diminatinya di sema jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri,
(2)        peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang diminatinya agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja bidang tertentu yang diinginkannya,
(3)        peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya,
(4)        peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri,
(5)        peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang beragam dari potensi dibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal Pendidikan,1989)
2.      Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan

Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan dengan kebijaksanaan pemerataan pendidikan.Karena peningkatan kualitas pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan bertujuan membangun sumber daya manusia yang mutunya sejajar dengan mutu sumber daya manusia negara lain.


 Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, antara lain:
(1)        Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan,
(2)        Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi,
(3)       Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa,
(4)       Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan budaya bangsa.
Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam menghadapi masalah peningkatan sumber daya manusia sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pemerintah telah dan sedang mengupayakan peningkatan: mutu guru dan tenaga kependidikan, mutu sarana dan prasarana pendidikan, mutu kurikulum dan isi kurikulum sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan nilai-nilai budaya bangsa.






























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
            M.J. Langeveld yang memandang manusia sebagai 'animal educandum' yang mengandung makna bahwa manusia merupakan mahkluk yang perlu atau harus dididik. Manusia merupakan makhluk yang perlu di didik, karena manusia pada saat dilahirkan kondisinya sangat tidak berdaya sama sekali. Seorang bayi yang baru dilahirkan, berada dalam kondisi yang sangat memerlukan bantuan, ia memiliki ketergantungan yang sangat besar. Padahal nanti kelak kemudian hari apabila ia telah dewasa akan mempunyai tugas yang besar yakni sebagai khalifah dimuka bumi. Kondisi seperti ini jelas sangat memerlukan bantuan dari orang yang ada disekitarnya.Bantuan yang diberikan itulah awal kegiatan pendidikan. Sesuai dengan tugas yang akan diembannya nanti dikemudian hari, dibalik ketidakberdayaan atau ketergantungan yang lebih dari binatang. Hanya kemampuan-kemampuan tersebut masih tersembunyi, masih merupakan potensi-potensi yang perlu dikembangkan.Disinilah perlunya pendidikan dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut, sehingga menjadi kemampuan nyata.Dengan bekal berbagai potensi itulah manusia dipandang sebagai mahkluk yang dapat di didik.Bertolak dari pandangan tersebut, secara implicit terlihat pula bahwa tidak mungkin manusia dipandang sebagai mahkluk yang harus di didik, apabila manusia bukan mahkluk yang dapat di didik.
Designed by Animart Powered by Blogger